top of page

BISAKAH AKU?

Writer: fishflashnewsfishflashnews

Penulis: Trisia Adi Ningrum

Editor: Cita Wulan Mahardika Khoiri


[BAGIAN 1]


Tepat pukul 5 pagi, Alisa bangun dari tidurnya. Seperti hari-hari biasa, ia menunaikan salat subuh lalu lanjut membantu ibu dan ayahnya untuk menyiapkan barang dagangan. Alisa adalah anak pertama dari dua bersaudara. Sayangnya, Alisa bukan anak kandung dari kedua orang tuanya. Sewaktu kecil, Alisa ditemukan oleh ayahnya di pinggir tong sampah dekat rumah sakit. Alisa mengetahui hal tersebut. Ia menyadari bahwa dirinya masih beruntung ditemukan orang baik yang merawatnya sampai saat ini. Ayah Alisa sangat menyayangi Alisa dan beliau tidak membedakan-bedakan antara Alisa dan anak kandungnya sendiri, baginya semua sama. Namun, berbeda dengan ibu Alisa. Sewaktu kecil, beliau sangat menyayangi Alisa, tetapi setelah melahirkan Roki, kasih sayangnya pada Alisa perlahan memudar.


Selepas membantu ibu dan ayahnya, Alisa berangkat ke sekolah. Saat ini Alisa duduk di kelas 12 SMA. Alisa berangkat sekolah tanpa diberi uang saku oleh ibunya. Alisa tak keberatan dengan hal itu. Namun, ayahnya diam-diam memberikan uang saku pada Alisa.


"Alisa, ini ayah beri uang saku buat lima hari ke depan, ya," kata Ayah Alisa.


"Ayah, nggak usah. Kalau Ibu tahu, pasti bakal marah," jawab Alisa.


"Udah, nggak papa. Ini uang yang Ayah sisihkan memang buat kamu supaya kamu bisa jajan kayak temen kamu. Disimpan, ya," saut Ayah.


"Makasih ayah, Alisa bener-bener sayang banget sama ayah," jawab Alisa.


Akhirnya, Alisa berangkat ke sekolah. Alisa berangkat menggunakan sepeda bekas milik tetangganya yang sudah tidak dipakai. Sepeda tersebut kemudian diperbaiki oleh ayahnya. Sesampainya di sekolah, Alisa dihadang oleh geng Nina. Mereka meminta buku tugasnya yang telah dielesaikan oleh Alisa. Di sekolah, Alisa dikenal pintar, tetapi pintar bukan segalanya. Sering kali Alisa dimanfaatkan oleh teman-temannya yang mempunyai kedudukan di sekolah dan ditakuti oleh siswa lain.


Setelah memberikan buka tugas pada geng Nina yang telah dikerjakannya, ia masih harus menghadapi teman sekelasnya yang sering menyuruhnya untuk membersihkan kelas walaupun saat itu bukan jadwal piketnya.


"Eh, Alisa udah datang...” kata salah satu temannya, “nih, Al, bersihin kelas, ya."


"Tapi aku lagi nggak piket hari ini," saut Alisa.


"Iya tau, tapi bantuin bersihin kelas bisa kali, kan pahala," ucap temannya.


"Iya. Sebentar, aku taruh tas dulu," jawab Alisa.


Alisa yang tak bisa berbuat apa-apa hanya menuruti perkataan temanya karena bila ia membantah justru dia akan menjadi bahan bully teman satu kelasnya. Alisa sadar dia tidak punya kedudukan yang kuat di sekolah. Ia hanya anak pedagang nasi uduk yang mendapat beasiswa agar dapat melanjutkan sekolah. Alisa hanya berdoa agar setelah lulus dari sekolah ini, ia bisa mendapatkan teman yang memahami dan membantunya.


Waktu berlalu cepat, ujian akhir semester telah dilaksanakan oleh murid kelas 12. Alisa juga sudah mengikuti tes beasiswa masuk kuliah. Saat ini, ia hanya berdoa agar bisa diterima di kampus impiannya. ayah Alisa sangat mendukung untuk lanjut ke jenjang perguruan tinggi. Namun, berbeda dengan ibunya yang menyuruh untuk segera bekerja membantu beliau.


"Al, kamu kerja saja, nggak usah kuliah-kuliah segala. Bantuin Ibu sama Ayah. Kamu, ‘kan. tahu sebentar lagi Roki masuk SMP, butuh biaya. Seharusnya kamu sadar untuk bantuin adik kamu," kata Ibu Alisa.


"Bu, udah biarin Alisa nguwujudin mimpinya untuk kuliah. Toh, kuliahnya juga nggak bayar dan nggak membebani kita," saut Ayah Alisa.


"Iya bener nggak bayar, tapi kan dia nggak dapet uang. Lagian, kuliah buat apa. Toh, kerjanya juga sama aja nanti. Udah, Al, kamu kerja aja. Hitung-hitung itu nyicil bayar biaya hidup kamu sama Ibu dan Ayah yang mau ngerawat kamu," jawab Ibu.


"Bu, jangan gitu. Alisa itu anak kita. Nggak perlu bayar-bayar," jawab Ayah kembali.


"Ibu, Ayah..., Alisa pasti bakal balas budi sama Ibu dan Ayah, tapi tolong biarin Alisa kuliah dulu. Alisa janji kalau sudah selesai kuliah, Alisa bakal bantu Ibu sama Ayah" jawab Alisa.


"Terserah kamu, Al. Dibilangin susah. Sana, kalau mau kuliah, terserah," jawab Ibu dengan ketus.


Mendengar jawaban Ibu yang seperti itu, Ayah Alisa mencoba menenangkan Alisa agar tetap sabar dan tidak perlu memasukkan omongan Ibunya ke hati. Alisa pun memahami bahwa ibunya memang seperti itu.


Tiba saat pengumuman masuk perguruan tinggi, Alisa dinyatakan lolos masuk universitas impiannya. Ayahnya merangkul Alisa dengan bangga. Sebuah kebahagiaan tak tertahankan antara ayah dan anak. Saat ini, Alisa harus bersiap untuk pindah di asrama universitas dan meninggalkan rumah. Ayah Alisa merasa sedih akan hal itu, tetapi harus bisa tetap mengikhlaskan bahwa anaknya harus pergi untuk mengenyam pendidikan yang lebih tinggi.(*)


Comments


Post: Blog2_Post

©2020 by Fish Flash News

bottom of page