Penulis: Khairaniyatul Iftitah
Editor: Cita Wulan Mahardika K.

(5 Februari 2021, 06.15 WIB)
“Perhatian. Kami imbau kepada seluruh calon penumpang kereta api arah Surabaya untuk segera melakukan proses boarding karena kereta akan segera tiba.” Pengumuman kereta memenuhi telinga Feby dan membuatnya bergegas menyiapkan diri serta barang bawaannya.
“Akhirnya bisa balik ke Surabaya. Yuhuu,” ucap riang Feby di dalam hati sambil melompat kecil memasuki gerbong kereta. Rasa senang terlukis di raut wajah Feby dengan senyuman lebar dan mata berbinar bak mendapat jackpot dalam suatu permainan. Feby, seorang mahasiswi dari salah satu dari 5 universitas terbaik se-Indonesia—Universitas Airlangga, ingin segera kembali merantau ke kota tempat ia menuntut ilmu. Sudah 2 tahun lamanya ia rindu akan suasana di kota rantaunya itu.
Drrt... drrt.... “My heart a stereo. It beats for you, so listen close,” handphone yang berada di dalam kantong Feby berbunyi, menandakan ada panggilan masuk. Feby memeriksa layar handphone-nya dan tersenyum lebar.
“Halo, assalamualaikum. Dengan Feby di sini, dengan siapa di situ?” ucap Feby yang menirukan suara costumer service sembari tertawa kecil.
“Waalaikumussalam, dengan suami idaman di sini. Hahaha,” ucap Rian membalas godaan Feby.
“Dih..., hahahaha, bisa aja, Yan,” ucap Feby sambil tertawa. “Hmm, by the way, hari ini kamu sibuk, nggak? Kalau enggak sibuk, nanti nonton bareng, yuk. Film yang kemarin kita bicarain udah rilis, lo.”
“Oh, ya? Kapan rilisnya? Eh, sebentar, deh,” ucap Rian yang sempat hilang fokus dengan ajakan Feby. “Oh, kamu ke surabaya?! Ini prank, ya? Ya, kan? Prank ini pasti, mah” tambah Rian yang mulai kebingungan.
Drrt.... Handphone Rian bergetar dengan sebuah pesan masuk berisi foto dari Feby yang sedang duduk di dalam gerbong kereta. “Alhamdulillah, hahahaha. Akhirnya bisa ketemu setelah sekian purnama,” ucap Rian yang kegirangan menerima kabar dari Feby. “Nanti kamu sampe Surabaya jam berapa? Biar aku yang jemput Tuan Putri, ya. Nggak tega aku kalau Tuan Putri-ku harus panas-panasan bareng abang ojol. ‘Kan mending panas-panasan sama pangeran,” celetuk Rian menggoda Feby.
“Idih.... Pangeran katanya, hahaha. Ingin hati ini menimpukmu, duhai Pangeran,” ledek Feby. “Nanti aku sampai di sana jam 09.40, kalau bisa, sih, jemput akunya sekalian bawain es krim satu truk,” tambah Feby dengan nada meledek.
“Ay ay captain, satu truk, ‘kan? Harus habis, ya,” balas Rian.
“Hahaha, bisa dong. Yaudah kalau gitu. Aku mau menikmati perjalanan. Kamu jangan ganggu aku, okay,” ucap Feby dengan suara bulat.
“Gini banget nasib hamba,” desah Rian. “Yaudah, nggak ganggu. Take care, honey. Jangan lupa kalau tidur pake masker, biar nggak kemasukan laler, hahaha. Assalamualaikum,” ucap Rian lalu memutus panggilannya.
Setelah meletakkan handphone-nya kembali, Feby memutuskan untuk merekam dirinya. “Lumayan buat konten medsos,” pikir Feby.
(5 Februari 2021, 07.30 WIB)
Di salah satu stasiun pemberhentian, Feby melihat ke arah jendela dan mendapati seorang anak laki-laki berusia sekitar 9-11 tahun dengan ransel yang lebih besar dari tubuhnya sedang memandang ke arahnya. Feby merasa sedikit penasaran karena ia hanya melihat seorang anak kecil tanpa orang tua atau pendamping di sebelahnya. Anak kecil tersebut memasuki gerbong yang sama dengan Feby dan duduk di bangku yang dekat dengan bangku milik Feby.
“Wah, keren adik ini, masih kecil sudah berani ke mana-mana sendiri,” ucap Feby di dalam hati sembari kembali ke posisi duduknya.
Beberapa detik kemudian Feby merasa ada suatu kejanggalan yang terjadi. “Bukannya kalau naik kereta harus punya KTP, ya? Anak ini kayaknya belum 17 tahun, deh. Mukanya juga nggak keliatan tua, kok,” gumam Feby yang berpikir keras. “Oh, mungkin dibeliin tiket sama mamanya,” Feby meyakinkan dirinya.
Karena semakin penasaran, Feby memberanikan diri untuk bertanya pada adik kecil tersebut.
“Hai, Dik. Aku Feby. Kalau boleh tau nama kamu siapa?” ucap Feby dengan nada dan ekspresi yang telah ditata agar terkesan “ramah” bagi anak kecil.
Anak kecil tersebut hanya menoleh dan tersenyum tanpa membalas pertanyaan Feby.
“Mungkin ajaran dari mamanya, ya, buat nggak ngomong sama stranger,” gumam Feby yang semakin penasaran. “Hmm, Dik, maaf banget kakak penasaran banget, nih, kok kamu sendirian? Barang bawaan Adik juga banyak, emang mama papa kamu di mana, Dik?” tanya Feby memberanikan diri.
“Habis,” satu kata keluar dari mulut adik kecil tersebut.
“Apaan, dah, habis. Apanya yang habis, sih?” gumam Feby kebingungan.
“Habis? Apanya yang habis, dik?” ucap Feby.
“M-m-mama pa-p-p-pa habis... makan... tinggal saya,” ucap si anak dengan tangan gemetar, mata berair, dan wajah yang mulai pucat pasi.
Feby yang sadar dengan perubahan si anak kecil mencoba menenangkannya. “Gue tadi nggak salah denger, ‘kan? Habis makan? Aduh, jadi nggak enak gini bikin nangis anak orang,” gumam Feby yang mulai kerepotan untuk menenangkan si adik.
“Hmm, Dik, Kakak nggak ngerti. Boleh nanya lagi, ‘kan? Tadi terakhir ketemu mama papa di mana?” tanya Feby penasaran.
Si adik kecil yang semula menangis sesenggukan kemudian terdiam dan menatap Feby dengan sinis. “Bisa diam nggak lu,” ucap si adik dengan nada marah. Feby pun memutuskan untuk berhenti menanyakan hal tersebut.
(5 Februari 2021, 08.45 WIB)
Beberapa saat setelahnya, Feby menyimpulkan kondisi si adik dari kata-kata yag terlontar dari mulut kecil anak itu. “Tega banget orang tuanya ninggalin anaknya, tapi ini anak agak kurang ajar sih,” batin Feby yang mulai acuh.
Feby melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 08.45 yang berarti ia sudah dekat dengan kota tujuan. Ia tidak sengaja melihat pantulan dirinya pada badan gerbong. Situasi gerbong sangat sunyi. Hanya ada si adik kecil, seorang nenek, dan dirinya.
Namun, ada sesuatu yang mengganjal pikirannya saat ia melihat pantulan dirinya. Di dalam pantulan tersebut tampak hidung dan matanya mengeluarkan cairan merah dengan bola mata yang juga merah. Feby mencoba memastikan dengan bercermin pada cermin yang sedang digenggamnya. Tidak ada sesuatu yang aneh seperti yang ia lihat sebelumnya. Ia mencoba untuk memastikan kembali, tetapi pada pantulan tersebut juga tidak ada hal aneh seperti sebelumnya.
Perasaan Feby mulai bercampur aduk ketika mendapati adik kecil di sebelahnya sudah tidak sadarkan diri. Kepanikan melanda dirinya, ia bergegas mencari prama atau prami untuk melaporkan kondisi si adik kecil. Setelah ia kembali ke gerbongnya, adik kecil tersebut tidak ada, hanya tersisa tas ransel dan sandal. Seorang prama mencoba menghubungi awak kereta lainnya untuk membantu menemukan si adik kecil.
(5 Februari 2021, 09.00 WIB)
Keberadaan adik kecil yang tidak diketahui itu tetap menghantui pikiran Feby. Feby semakin gelisah ketika mendapati seorang nenek yang tertawa terkikik seolah ia senang dengan kegelisahan orang-orang di sekitarnya. Terdengar suara tawa nenek tersebut semakin keras, Feby memutuskan untuk kembali duduk dan memasang earphone-nya. Kesunyian terasa setelah tidak terdengar suara tertawa dari si nenek.
DUGH! Muncul suara benda yang menabrak dengan keras dari arah jendela samping tempat duduk Feby.
“AAA!!!” Feby tersentak dan bergegas berlari menuju gerbong lain.
Benda yang menabrak jendela Feby adalah kepala manusia dengan lumuran darah dan raut wajah yang sudah hancur sebagian. Entah siapa yang melemparkannya, Feby tidak bisa berpikir dan hanya bisa berlari menjauh dari gerbong tersebut. Di gerbong lain tidak jauh berbeda, sunyi tanpa penumpang. Feby yang ketakutan mulai berlari kembali ke gerbong selanjutnya tanpa menghiraukan barangnya.
Di sepanjang gerbong kereta, tidak ada satu pun penumpang yang tersisa. Kereta tetap melaju dengan kecepatan konstan seperti biasa. Hanya perasaan Feby yang tidak seperti biasa. Feby kembali tersadar bahwa ia kembali ke gerbong asalnya.
“Lo, ini balik ke gerbong yang tadi, huaa. Gimana, sih. Perasaan udah lari secepat cheetah, kok balik lagi, sih. Duh, Gusti...,” ucap Feby yang kebingungan dengan apa yang sedang ia alami.
(5 Februari 2021, 09.40 WIB)
Tibalah kereta di kota tujuan, Feby langsung bergegas mengemasi barang dan melihat ke arah jendelanya yang masih berlumuran darah. Setelah ia turun, Feby mendapati Rian yang sedang melambaikan tangan dari kejauhan. Feby berlari dengan perasaan lega.
DOORRR! Langkah Feby terhenti, jantungnya seakan ikut berhenti berdetak. Ia melihat Rian terjatuh dengan kepala berlumuran darah.
“Siapa..., siapa yang nembak?” gumamnya getir sembari mencoba melihat ke sekelilingnya dengan cepat.
Tidak ada satu orang pun yang mencurigakan dengan pistol di tangannya. Feby terbujur kaku, kakinya terasa sulit untuk digerakkan. Ia berusaha mendekat dengan langkah gontai mendekati jasad Rian. Namun, setelah mendekat, jasad tersebut bukan jasad Rian melainkan si nenek yang satu gerbong dengannya. Kondisi tubuh jasad si nenek tidak lengkap. Kebingungan semakin memenuhi pikiran Feby. Ia tidak tahu dengan perasaannya yang merasa sedih namun juga lega. Jasad tersebut segera diamankan oleh pihak stasiun.
Feby mencoba mencari handphone-nya, tetapi ia tidak menemukannya di mana pun. Ia kemudian tersadar bahwa ia tidak turun di kota tujuannya. Tempat itu tampak asing baginya. Terdapat sebuah papan bertuliskan “Stasiun Terakhir” tanpa ada keterangan nama kota.
Samar-samar terdengar nada dering handphone-nya yang berbunyi entah dari arah mana. Berulang-ulang dan semakin keras. Feby mencoba mengikuti suara nada dering tersebut dan mendapati tas ransel yang sama dengan tas milik si adik.
“Kok tas ini ada di sini,” gumam Feby bingung.
Ketika semakin mendekat ke arah tas, tercium aroma anyir menyengat yang bersumber dari tas tersebut. Mata Feby terbelalak ketika melihat ada beberapa potongan tubuh dalam tas tersebut. Di waktu yang bersamaan, suara Rian terdengar melalui panggilan telepon yang tersambung dengan sound stasiun.
“Halo, Feb. Halo... Kok nggak dijawab, sih. Haloo...,” ucap Rian.
Feby frustasi dan ketakutan karena ia mulai menyadari bahwa si adik kecil yang bersamanya beberapa waktu lalu memang tidak normal seperti anak seumurannya. Beberapa saat kemudian, si adik kecil berdiri di tengah rel dengan tangan menggenggam sebuah handphone milik Feby. Ia ingin segera mengambil handphone-nya, tetapi tidak tahu harus bagaimana.
Ia hanya bisa mematung melihat si adik kecil melambaikan handphone miliknya. Beberapa detik kemudian terdengar suara klakson kereta dari arah belakang si adik kecil. Feby mencoba memperingati si adik kecil untuk menyingkir karena dari arah belakangnya ada kereta yang melaju dengan sangat cepat. Dan... DDDUUGHH! Tidak sempat Feby berlari, si adik kecil tewas terlindas kereta. Feby tidak kuasa melihat semua kejadian yang ia alami hari ini dan akhirnya pingsan.(*)
Comments