top of page

MENILIK POTENSI UDANG VANAME : KOMODITAS PERIKANAN UNGULAN

  • Writer: fishflashnews
    fishflashnews
  • Jul 16, 2021
  • 2 min read

Penulis: Achmad Rahedi Dwi Subhakti

Editor: Syafrida Purbianita


Berita FFN - Indonesia merupakan negara maritim dengan potensi sumber daya alam yang sangat besar. Salah satunya adalah sumber daya perikanan yang dapat memberikan kesejahteraan bagi masyarakat jika pengelolaanya dapat dilakukan dengan optimal. Hal tersebut sejalan dengan cita-cita Presiden Joko Widodo yaitu menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia. Oleh karena itu, perlu adanya pengembangan industri perikanan yang berkelanjutan salah satunya melalui akuakultur.


Udang merupakan komoditas unggulan perikanan di Indonesia. Bahkan nilai ekspor udang mencapa 43,86% dari total ekspor produk perikanan pada tahun 2015[1]. Angka tersebut merupakan nilai ekspor terbesar dibidang perikanan. Salah satu komoditas udang yang sering dibudidayakan di Indonesia adalah vaname (Litopeanis vanamei). Budidaya udang vaname merupakan penyegaran industri akuakultur setelah keterpurukan budidaya udang windu pada tahun 1994 akibat degradasi lingkungan yang mengakibatkan munculnya berbagai permasalahan seperti penyakit[2].


Udang vaname menjadi primadona untuk dibudidayakan karena udang ini merupakan udang varian baru yang memiliki beberapa keunggulan. Beberapa keunggulan tersebut seperti tahan terhadap penyakit (resisten), memiliki toleransi terhadap kualitas perairan yang cukup tinggi, dapat dibudidayakan dengan metode intensif dengan padat tebar yang cukup tinggi dan waktu pemeliharaan cukup singkat yaitu sekitar 90 - 100 per siklus[3].


Peningkatan permimtaan udang vaname terus dipenuhi melalui penerapan berbagai metode budidaya. Umunya budidaya udang dilakukan dengan tiga metode yaitu ekstensif, semi intensif dan intensif. Ketiganya dapat dicirikan dengan padat tebar yang digunakan. Budidaya dengan metode ekstensif menerapkan padat tebar yang cenderung rendah dan teknik yang digunakan masih konvensional. Sedangkan padat tebar budidaya metode semi intensif lebih tinggi dari pada ekstensif dengan penambahan pemberian pakan buatan dan penerapan teknologi sederhana dalam menjaga lingkungan. Budidaya metode intensif dilakukan dengan padat tebar tinggi, pakan buatan sebagai pakan utama dan kontrol lingkungan dilakukan dengan ketat serta dapat disisipi beberapa penerapan teknologi[4].


Disisi lain permasalahan yang seiring terjadi pada budidaya udang adalah pembukaan lahan secara sembarangan yang tidak memperhatikan aspek ekologi. Pembukaan lahan untuk tambak udang seringkali menerobos wilayah vegetasi mangrove yang menjadi penyokong ekosistem pesisir dan laut. Akibatnya terjadi berbagai kerusakan yang menyebabkan degradasi lingkungan. Oleh karena itu, dengan perkembangan budidaya udang vaname yang semakin meningkat diharapkan pula adanya pengelolaan yang ramah lingkungan, berkelanjutan dan terpadu supaya usaha budidaya dapat terus berjalan dengan kondisi ekologi yang optimal.(*)


Referensi:

[1] KKP [Kementrian Kelautan dan Perikanan]. 2015. Analisis Data Pokok Kementrian Kelautan dan Perikanan 2015. Pusat Data, Statistik, dan Informasi KKP. Jakarta.

[2] Mansyur, A., dan Rangka, N. A. 2008. Potensi Dan Kendala Pengembangan Budidaya Udang Vanamei Di Sulawesi Selatan. Media Akuakultur, 3(1): 11-14.

[3] Renanda, A., Prasmatiwi, F. E., dan Nurmayasari, I. 2020. Pendapatan dan Risiko Budidaya Udang Vaname di Kecamatan Rawajitu Timur Kabupaten Tulang Bawang. Jurnal Ilmu Agribisnis: Journal of Agribusiness Science, 7(4): 466-473.

[4] Yustianti, Ibrahim M. N., Ruslaini. 2013. Pertumbuhan dan Sintasan larva udang Vaname (Litopenaeus vannamei) Melalui Substitusi Tepung Ikan dengan Tepung Usus Ayam. Jurnal Mina Laut Indonesia. 1(1): 93–103.


תגובות


Post: Blog2_Post

©2020 by Fish Flash News

bottom of page