PEREMPUAN ABAD 21
- fishflashnews
- Apr 21, 2020
- 1 min read
Oleh: Fulana

Aku pernah membaca kisahmu; sebuah surat yang dengannya engkau bersuara.
Membakar diksi demi diksi dan menghunus kalimatmu hingga ke ulu hati.
Gaungan kata emansipasi santer terdengar di sudut desa sudut daerah, sudut kota bahkan hingga ke Kepala Negara.
Perempuan abad 21, kini datang dengan gincu merah jambu dan lembaran buku, bukan lagi dengan rentetan konflik soal Marsinah; perempuan malang yang sosoknya menghilang. Mulutnya dibungkam, matanya dibutakan, telinganya ditulikan dan kodratnya sebagai wanita direndahkan....
Duhai engkau, perempuan abad 20 ada pesan yang tak sempat terucap, tak sempat terungkap.
Aku..., perempuan dari abad 21 bukan pula sekadar datang untuk singgah, berterima kasih lalu menghilang lagi.
Ada kabar yang ingin aku dengungkan, tentang kisah perempuan abad 21....
Kau mau tahu? Kuharap pun begitu,
dasawarsa telah berlalu, karenamu para perempuan abad 21 bebas, lepas, bahkan kebablas.
Dialek ketimuran budaya pun mulai ranggas, berganti dengan dialek kebaratan yang mengatasnamakan globalisasi.
Kini, nyaris tak ada lagi perempuan abad 21 yang menenun kain laiknya Fatmawati.
Nyaris punah perempuan bercelemek putih terganti dengan perempuan berpantalon dan berdasi.
Duhai engkau, perempuan abad 21, kaumku....
Kuharap bebas bukan berarti kebablas
Bebas bukan berarti kau dijadikan budak eksploitasi segala bidang.
Jadilah perempuan abad 21, yang berdiri atas nama emansipasi bukan sekadar rasa ambisi.
Maka jadilah perempuan abad 21, yang semakin terbuka pikirannya, bukan pakaiannya,
yang semakin terpelajar tanpa bersikap kurang ajar, yang semakin kreatif dan enggan untuk apatis.
Maka habislah gelap terbitlah terang, apa guna emansipasi digaungkan. Apabila Kartini abad 21 tidak seelok dulu?
Selamat Menunaikan Ibadah Puisi !! _____________________________________
댓글