Penulis: Trisia Adi Ningrum
Editor: Halimatus Sa’Diyah
Bagian 2

Sudah beberapa bulan berlalu, Riris tetap tak punya teman dan dijauhi oleh seluruh teman sekelas. Riris berusaha tetap menerima hal itu karena ia mempunyai tekad untuk lulus dari sekolah tersebut apapun yang terjadi.
Hingga suatu hari di jam istirahat terjadi kegaduhan di kelas, ternyata sebuah jam tangan perak telah hilang dari tas Lina. Tanpa pikir panjang, Lina langsung mengarahkan tangannya tepat di pipi Riris.
"Lo kan yang ngambil jam tangan gue! Ngaku lo!!" kata Lina pada Riris dengan nada yang begitu tinggi.
"Lin, aku nga ngambil apa-apa," jawab Riris.
"Halah, siapa lagi yang paling miskin di kelas ini, loh kan!" kata Rara.
"Aku emang miskin, Ra tapi aku nggak bakal mengambil barang orang," kata Riris.
"Maling mana mau ngaku!" kata Rara.
"Awas ya, gue bakal keluarin lo dari sekolah kalau sampai lo yang ambil jam tangan gue!" kata Lina dengan marah.
"Udah, Lin mending panggil guru BK aja deh," kata Rara.
Akhirnya guru BK dipanggil oleh salah satu murid di kelas. Lalu guru BK menyuruh semua murid meletakkan tas di meja dan mulai memeriksa tas hingga loker meja. Tiba saatnya guru BK mengecek isi tak dan loker Riris. Namun, ternyata jam tangan itu ditemukan di dalam tas Riris. Melihat hal itu Riris mencoba mengatakan pada guru BK bahwa dia tidak tahu menahu mengapa jam tangan tersebut berada di dalam tas Riris. Tetapi, guru BK tak bisa menerima alasan Riris karena memang bukti sudah nyata berada di dalam tas Riris.
Karena hal itu, Riris mendapat skors dari guru BK. Ia tak bisa sekolah selama seminggu. Lina yang mendengar hal itu tak terima ia meminta Riris dikeluarkan dari sekolah. Namun, melihat begitu baik nilai akademik dan juga Riris telah mengikuti beberapa perlombaan selama setengah tahun berada di sekolah, guru BK tak bisa mengeluarkan Riris dari sekolah. Riris tak bisa apa-apa dan hanya menerima hukuman tersebut.
Selama seminggu Riris menjalani skors, Riris membantu ibunya berjualan nasi uduk di pinggir jalan bersama ibunya. Ibunya hanya tau bahwa selama seminggu Riris libur sekolah karena Riris tidak mengatakan sebenarnya ia di skors. Saat sedang berjualan nasi uduk ternyata salah satu perlengkapan yang digunakan untuk berjualan tertinggal di rumah akhirnya Riris pergi untuk mengambilnya.
Setelah Riris mengambil perlengkapan itu ia melihat Rara yang sedang menelpon akan menyebrang jalan. Namun, di sisi lain ada mobil melaju kencang berjalan. Seketika Riris berlari untuk menyelamatkan Rara. Hingga akhirnya keduanya jatuh tersungkur di aspal. Rara hanya mengalami luka kecil, tetapi Riris mengeluarkan cukup banyak darah. Banyak orang berdatangan dan Rara yang masih tersadar mencoba memanggil ambulans. Rara menangis melihat Riris bersimbah darah, Rara merasa seperti ia akan kehilangan seseorang yang sangat berharga untuknya.
Riris berada di UGD sedangkan Rara hanya terluka ringan, disarankan dokter untuk membersihkan lukanya terlebih dahulu. Namun, Rara tidak mau dan ingin tetap menunggu bagaimana kabar Riris. Ibunya Riris pun datang setelah mendapat kabar dari rumah sakit. Ia begitu khawatir kepada Riris. Dua jam berlalu dan Riris baru keluar dari UGD untuk dibawa di ruang rawat. Dokter mengatakan bahwa luka Riris cukup dalam dan mungkin Riris belum bisa bangun dalam waktu cepat. Ketika itu ibu Rara datang, namun ibu Riris merasa kaget karena ternyata ibunya Rara adalah majikannya dahulu.
Ibu Rara mengajak bicara Ibu Riris atau dulu biasa dipanggil Bibi Ijah. Namun, Bi Ijah seperti ketakutan dan menyembunyikan sesuatu. Ibu Rara sebelumnya berterimakasih pada Riris karena sudah menolong Rara, ibu Rara merasakan bahwa Riris adalah anak yang baik sejak pertama bertemu Riris di depan sekolah. Mendengar hal itu, justru ekspresi Bi Ijah merasa khawatir. Lalu ibu Rara menanyakan mengapa dulu setelah melahirkan Bi Ijah malah mengundurkan diri dari pekerjaannya. Tapi, Bi Ijah hanya mengatakan bahwa saat itu ia ingin fokus merawat putrinya. Saat itu pula ibu Rara juga menanyakan kabar suami Bi Ijah yang ternyata telah meninggal setelah Riris berumur lima tahun.
Keduanya akhirnya menyudahi perbincangan. Ibu Rara menyuruh Rara untuk pulang terlebih dahulu, namun Rara sangat begitu mengkhawatirkan Riris. Melihat kedekatan dan kekhawatiran Rara pada Riris Bi Ijah benar-benar merasa khawatir.
Sehari kemudian Riris baru sadar, saat itu juga di sampingnya ada Rara. Seketika Rara menangis dan mengatakan mengapa Riris harus menyelamatkannya padahal ia begitu jahat pada Riris. Riris mengatakan bahwa menolong seseorang tak harus memandang bahwa ia jahat atau tidak. Rara meminta maaf pada Riris atas apa yang dia lakukan selama ini. Ia juga mengaku bahwa ia yang mencoba memfitnah Riris atas hilangnya jam tangan Lina. Riris tersenyum dan mengatakan bahwa ia telah memaafkan kesalahan Rara.
Tak beberapa lama, ibu Rara datang dan turut bahagia bahwa Riris telah bangun. Tanpa disadari Bi Ijah melihat kebersamaan itu dan merasa sangat bersalah karena ternyata anak yang dirawatnya selama ini kembali dipertemukan dengan keluarga aslinya kembali. Ternyata Riris adalah kembaran Rara. Sewaktu melahirkan dulu ibu Rara melahirkan anak kembar. Namun, suami Bi Ijah memanipulasi data yang ada di rumah sakit dan mengambil anak dari majikannya yang dikenal sebagai ibu Rara karena anak kandung dari Bi Ijah telah meninggal ketika dilahirkan.
Bi Ijah sangat merasa bersalah bertahun-tahun memisahkan Riris dari keluarga aslinya, membiarkan Riris hidup susah padahal ia punya keluarga asli yang berkecukupan. Lalu Bi Ijah masuk ke kamar dan dengan seketika membuat pengakuan bahwa Riris bagian keluarga Rara. Setelah itu beliu menjelaskan seluruh rincian cerita yang terjadi. Mendengar hal itu Riris tak percaya, begitu juga ibu Rara dan Rara sendiri. Namun, Bi Ijah saat itu terus meminta maaf akan hal yang terjadi. Ibu Rara sungguh kecewa terhadap apa yang terjadi dan menyuruh Bi Ijah segera keluar dari ruangan itu.
Beberapa hari Riris dirawat tidak sedikitpun Bi Ijah datang menjenguknya. Hanya Ibu Rara dan Rara yang ada. Namun, Riris tetap ingin menemui Bi Ijah karena ia tetap menganggap Bi Ijah sebagai ibunya. Walaupun kenyataannya Bi Ijah telah membohonginya selama ini.
Akhirnya Riris bertemu dengan Bi Ijah, Riris meminta satu permintaan pada ibu kandungnya, Riris meminta ibu kandungnya untuk memaafkan Bi Ijah. Lalu dengan lapang dada akhirnya Bi Ijah dimaafkan.
Setelah itu Riris berpindah tempat di rumah barunya bersama ibu kandungnya. Tangis sedih terlihat di mata Bi Ijah, lalu Riris mengajak bi Ijah untuk pergi bersamanya. Namun, Bi Ijah tidak mau dan Riris menegaskan bahwa ibu kandungnya memperbolehkan Bi Ijah untuk ikut tinggal dengannya. Hingga akhirnya Bi Ijah mau untuk ikut pergi dengan Riris.
Di sekolah, Riris dan Rara berangkat bersama keduanya terlihat akur dan tidak ada lagi murid yang berani untuk menindas Riris. Begitupun Lina akhirnya meminta maaf juga pada Riris. Setelah begitu banyak hal yang dilalui Riris kini ia merasakan kebahagiaan yang ia dambakan.(*)
Comments