Penulis: Rizqy Qurnia
Editor: Wasiatul Ulumiah

Beristirahatlah kata-kata,
Kata orang yang binasa,
Biarlah menjadi duka
Menyebarlah luka
Lampiaskanlah derita
Hingga kita semua putus asa
Putus asa dalam kedengkian
Hingga mencapai batas kewajaran
Menunggu panggung kemunafikan
Untuk para penguasa yang memalukan
Ini bukan soal rima
Tanpa arti tanpa makna
Tebar janji dan pesona
Bicara tentang keadilan
Yang ternyata hanya bualan
Hidup tak sekedar kekosongan
Tapi juga darah kenyataan
Bila memilih tertangkap,
Penjara mana yang lebih baik?
Penjara negara,
atau penjara dusta?
Melihat dosa
Tapi tak bisa bersuara
Menahan amarah atas tanah yang terampas
Atas sakitnya orang yang termatikan
Oleh tikus penguasa yang bertahta
Bukan puisi sebenarnya,
Hanyalah karangan satire untuk yang merasa,
Membungkam suara,
Berdiri diatas kuasa,
Mengubar dusta,
Mengharap sebuah jatah(*)
Komentarze