Penulis: Achmad Rahedi Dwi Subhakti
Editor: Cita Wulan Mahardika Khoir

Berita FFN - Sejak awal Maret 2020, publik masih digemparkan akibat Coronavirus disease 2019 (COVID-19). Bahkan, pandemi di Indonesia masih menjadi masalah serius dan belum ditangani dengan baik. Hal ini ditengarai dengan peningkatan kasus positif COVID-19 setiap harinya.
Pemerintah telah mengupayakan langkah-langkah untuk mengatasi persoalan pandemi ini. Mulai dari menerapkan protokol kesehatan, mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang membatasi mobilitas masyarakat, dan langkah yang saat ini sedang gencar dilakukan adalah vaksinasi. Vaksinasi dilakukan untuk memunculkan antibodi dalam tubuh sehingga mampu membentengi tubuh saat terpapar virus COVID-19.
Ironisnya, sebagian vaksin diproduksi dari bahan yang unsustainable atau tidak berkelanjutan. Dilansir dari Webinar Ocean Talks 9.0: 2021 Series yang bertajuk “Minyak Hati Ikan Hiu sebagai Komposisi Vaksin COVID-19, Potensi atau Ancaman?” (21/08/2021), squalene merupakan minyak yang didapat dari hati hiu dan dijadikan bahan adjuvan yang dapat meningkatkan efektivitas vaksin. Penggunaan squalene sebagai bahan pembuatan vaksin ini dapat meningkatkan perburuan hiu di alam yang dapat mengancam populasi. Ditambah lagi, hiu merupakan hewan dengan tingkat reproduksi yang rendah sehingga keseimbangan ekosistem sangat rentan terganggu akibat pengeksploitasian hiu. Akhirnya, akan membahayakan ekologi dan kehidupan manusia. Jadi tepatkah penggunaan squalene sebagai bahan vaksin?
Jauh sebelum adanya pandemi COVID-19, telah dilakukan perburuan hiu untuk pemanfaatan berbagai komponen tubuhnya. Bahkan sampai saat ini, Indonesia masih menjadi negara pengekspor hiu terbesar di dunia. Kegentingan vaksinasi masyarakat global akan meningkat berkali-kali lipat terhadap eksploitasi hiu untuk dimanfaatkan squalenenya. Hal ini menimbulkan guncangan ekologi akibat menurunnya salah satu tropik secara drastis dalam ekosistem. Jika hal ini terjadi, akan timbul kekebalan global terhadap COVID-19. Di sisi lain, juga menimbulkan bencana bagi manusia. Alternatif yang dapat dilakukan adalah mengganti squalene dengan bahan-bahan yang sustainable.(*)
Comments